Menikmati berjualan online via Facebook

Image

“Saya sudah mengenal MedSos Facebook sejak tahun 2009 yang lalu, kalau tidak salah. Tapi, mengenal dunia online shop di Facebook adalah hal baru bagi saya. Dan rasanya sangat-sangat jauh berbeda.”

It’s a true story. Beberapa hari belakangan saya disibukkan dengan kegiatan baru, selain ngampus dan tidur. Yaitu berjualan online via Facebook. Bidang usaha saya adalah pakaian-pakaian bekas layak pakai. Dan betapa kagetnya saya begitu mengetahui bahwa sudah begitu banyak orang yang menekuni usaha ini.

Saya pikir, tidak akan begitu banyak orang yang mau melakukan jual-beli pakaian bekas, mengingat benda yang dijual adalah benda yang pernah dipakai orang lain. Dugaan saya salah ternyata! Sudah banyak orang yang lebih dulu terjun di bidang ini ketimbang saya. Dan sebagian besar adalah mahasiswa, sama seperti saya.

Wah! Pasti sulit, nih! pikir saya. Mengingat persaingan sudah ketat sejak awal, bahkan sebelum saya terjun disana. Dengan kehadiran saya dan orang-orang yang baru menekuninya, bisnis ini semakin ramai saja. Dan ternyata benar, apa yang saya takutkan benar-benar terjadi. Akibat dari ketatnya persaingan, pelaku-pelaku bisnis semakin ‘menggoyang’ harga pasar. Persaingan harga murah terjadi besar-besaran. Mau tidak mau saya harus ikut arus ini, atau kalau tidak dagangan saya bisa tidak laku di pasar yang baru saya kenal. Akhirnya saya ikut menurunkan harga.

Namun masalahnya bukan itu saja. Terasa sekali kesulitan bagi saya untuk menjual barang di Facebook. Kebanyakan orang harga numpang lewat; basa-basi bertanya harga, kemudian tidak lagi membalas kontak. Meskipun begitu, masih ada tentu saja, orang yang serius membeli. Thanks god!

Saya memulai baru saja. Sekitar bulan Februari kalau tidak salah. Itupun karena bujukan dari seorang teman yang punya hobi membeli pakaian bekas di pasar cimol bandung. Dia mengaku bisa menjual beberapa potong pakaian dengan harga cukup tinggi. Melihat peluang yang ia punya, saya pun akhirnya ikut tertarik untuk ikut jualan. Namun berbeda jalan, saya menjual via Online, sedangkan dia, dari mulut ke mulut.

Setelah beberapa saat memulai bisnis ini, saya vakuum. Kesulitan mencari pelanggan dan ketatnya persaingan membuat semangat saya kendur untuk beberapa saat. Saya akhirnya malas mencari stock baru. Akun facebook yang sudah dibuat, saya biarkan berdebu selama beberapa minggu.

Hingga kemudian siklus akhir bulan melanda saya, selaku anak kost. Saya mulai gencar lagi menjual pakaian lewat toko maya. Namun kali ini sedikit berbeda, karena saya mulai mempelajari cara-cara yang dipakai oleh penjual lain dalam menjajakan dagangannya. Dari sanalah saya tahu letak kesalahan saya selama ini. Memang benar kata pepatah lama “Asah bisa karena biasa…”

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s