Cara menanamkan mindset kesuksesan dengan pendekatan Dimensi Paralel

Image

 

Judulnya kepanjangan? haha, biarlah. Don’t judge book by it’s cover, maksudnya jangan menilai isi artikel dari judulnya saja. :p

Lantas apa maksud dari judul ‘Time traveler’ dengan wallpaper Jet Li dalam film The One? Biar saja jelaskan korelasinya. Saya yakin sebagian besar orang pernah menonton film diatas. Ceritanya tentang seorang Jet Li melintasi dimensi paralel guna membunuh ‘dirinya’ yang lain. Soalnya apabila ia hidup bersama-sama dengan ‘dirinya’ di seluruh dimensi, maka kekuatan yang ia punya akan terbagi-bagi dengan yang lain. Tujuannya jelas, membunuh ‘Jet Li di dimensi berbeda’ agar kekuatannya dapat utuh dimiliki ia seorang. Jadi bisa hidup tanpa membagi-bagi kekuatan gitu. 

Ya, intinya itu. Tapi yang ingin saya bahas bukan itu. Justru yang menjadi perhatian adalah teori Dimensi Paralel yang diceritakan dalamfilm ini. 

Dimensi Paralel itu apa? Garis besarnya adalah, dimensi lain dunia dimana kita yang lain hidup, dan melakukan hal berbeda dari yang kita lakukan.

Ada sebuah pertanyaan terkenal mengenai Dimensi Paralel ini. Misalnya, saya mempunyai sebuah mesin waktu yang bisa saya gunakan untuk kembali ke masa lalu. Kemudian, di masa lalu saya bertemu dengan kakek saya ketika ia masih muda dan belum mempunyai keturunan. Lalu tanpa sengaja saya membunuhnya ( menabraknya dengan mobil, atau hal lainnya ) maka pertanyaannya, apa yang akan terjadi pada saya? Apakah saya akan hilang dari muka bumi? Bukankah saya baru saja membunuh kakek saya yang belum mempunyai keturunan? Itu artinya ayah / ibu saya belum lahir. Lantas bagaimana mungkin saya bisa kembali ke masa lalu jika ayah / ibu saya tidak akan mungkin lahir?

Kita akan dibuat pusing tujuh keliling apabila memikirkan hal ini beberapa abad yang lalu. Untunglah saat ini ilmuwan telah membuat sebuah teori bernama Dimensi Paralel. Jawaban pertanyaan di atas–menurut versi teori dimensi paralel–adalah saya akan tetap hidup seperti biasa. Karena tercipta dimensi baru, yang berbeda dengan dimensi yang saya tinggali dulu. Akan tercipta sejarah baru, kehidupan baru, tanpa adanya kakek saya disana. Lantas bagaimana seandainya saya kembali ke masa depan?

Film Back to Future telah menjawabnya. Di masa depan pun, akan terjadi dimensi paralel lainnya. Dunia dengan sejarah berbeda dengan yang saya tinggali dulu. Mungkin foto-foto kakek saya akan berganti dengan wajah orang lain, atau bisa jadi, orang tua saya tidak akan mengenal saya karena tidak pernah merasa melahirkan saya.

Dimensi Paralel inilah yang kemudian membuat saya berpikir panjang semalaman. Coba bayangkan, seandainya kita punya mesin waktu? Kita bisa kembali ke masa ketika masih SD atau SMP. Agar tidak semakin rumit, anggaplah yang kembali ke masa lalu hanya jiwa kita saja. Kita kembali ke masa bertahun-tahun lalu terperangkap di jiwa kita di masa lalu. 

Bayangkan! Betapa seru dan membingungkan. Kita dipaksa untuk menjalani bertahun-tahun kehidupan yang telah lewat, dengan pertimbangan, kita bisa mengubah sejarah. Atau istilah singkatnya, kita diberi kesempatan kedua oleh tuhan untuk menjalani hidup dari awal lagi. Apa yang akan kita lakukan? Saya yakin, semua orang akan menjawab; Menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Saya, seandainya bisa hidup dari awal lagi, setidaknya dari awal masuk SMP saja, maka saya akan membuat hidup saya jauh lebih bermakna. Saya akan belajar dengan sebaik-baiknya, saya akan berolahraga dengan teratur, saya akan menjauhi rokok, saya akan menuruti semua perintah orang tua, dan lainnya. Saya tidak akan berbuat hal-hal merugikan, yang sudah saya alami efeknya ketika dewasa. Sangat sempurna!

Oke, itu hanya angan-angan yang tidak akan terwujud, kecuali kita punya mesin waktu.

Sekarang kembali ke realita. Tidak banyak orang yang bisa memaknai hidupnya dengan hal-hal yang berharga, kecuali orang yang sadar bahwa hidup tidak bisa terulang dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Lantas kenapa kita tidak bisa menjadi mereka? orang-orang yang menghargai hidupnya sendiri. Kita selalu terlena dengan kenikmatan yang dunia tawarkan. Hingga kemudian hanyut bersama arus waktu, maju ke depan. Begitu sadar, kita sudah terlampau tua untuk memulai dari awal. Sementara waktu tidak bisa diajak kompromi untuk mengulang kembali.

Pernah nonton film The Click-nya Adam Sandler? disana juga–secara terselubung–menjelaskan tentang Dimensi Paralel. Tapi bukan lagi-lagi mengenai Dimensi Paralel. Tapi mengenai penyesalan. Dalam film itu diceritakan tentang seorang pria yang mendapat sebuah remote control dari ilmuwan ( malaikat?) yang bisa digunakan untuk mengatur waktu sesuka hati, seolah sedang menonton film di DVD. Forward, Pause, Stop, Play, serta segala macam fungsi remote DVD lainnya, kecuali Rewind ( Putar kembali ). Karena terlalu asyik dengan mainan barunya, pria ini kemudian lupa bahwa disana tidak ada tombol untuk mengulang kembali hidupnya. Semua yang ia lakukan terbuang percuma sebab digantikan oleh auto pilot tiap kali menekan tombol Forward. Akhirnya hanya penyesalan yang ia dapatkan ketika tua. Tidak ada lain, selain itu.

Bukankah itu bisa dijadikan semacam gambaran? Bahwa hidup terlalu sayang untuk sekedar di Sia-sia kan. Jauh lebih baik apabila kita melakukan semua hal yang berguna, selama kita bisa, semaksimal mungkin. Agar tidak ada penyesalan di hari tua kita kelak.

Sulit? Jelas! Kebiasaan memang sulit untuk diubah. Lalu bagaimana? 

Bukankah kita baru saja membicarakan mengenai masa depan? dimensi paralel? merubah sejarah? Bagaimana jika kita berpura-pura menjadi seorang Time Traveler yang datang dari masa depan, kemudian kembali ke masa lalu agar sejarah mengenai diri kita bisa diubah? Daripada berpikir; “Saya harus melakukan….. agar di masa depan saya bisa….” Sulit! coba dengan mengganti kata ‘agar’ menjadi ‘karena’.

Kalimat : “Saya harus belajar dengan rajin, agar di masa depan saya bisa mendapatkan pekerjaan”. Diganti dengan kalimat : “Saya harus belajar dengan rajin, karena di masa depan saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan. 

Creepy enough, right? Saya yakin kalimat diatas cukup untuk membuat kita tercambuk. Daripada berangan-angan dengan sebuah harapan, lebih baik menakut-nakuti diri sendiri dengan tujuan lebih baik .

Yah, sekian saja tulisan saya. Mohon maaf apabila ada kesalahan, karena selain mencoba mengingatkan kita semua, saya sedang mencoba mengingatkan diri sendiri dari kesalahan. Semoga kita bisa menjadi jauh lebih baik dari saat ini. Thank’s :kiss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s