Naik Gunung ; Mencintai alam atau ikutan trend?

Sebuah negara tidak akan kekurangan pemimpin, jika anak mudanya sering bertualang di hutan, gunung, dan lautan… – Sir Henry Dunnant

What a beautiful quote by Sir Henry Dunnant. Beliau percaya bahwa anak muda yang sering bertualang di gunung, hutan dan lautan adalah calon pemimpin sebuah bangsa di masa depan. Ya, saya percaya, apa yang ia katakan adalah benar adanya. Seseorang yang sering merasakan sulitnya mencari makan, bagaimana bertindak sesuai keadaan, hidup secara mandiri, menjaga keindahan alam dan mampu menjaga kekompakan dengan teman seperjalanan, adalah diorama kecil yang apabila di aplikasikan dalam kehidupan bernegara, adalah tipe pemimpin yang dibutuhkan masyarakat.

Namun, sayang seribu sayang, anak muda Indonesia saat ini menganggap pendakian gunung bukan lagi sebagai ajang melestarikan alam atau mensyukuri karunia dari sang pencipta. Melainkan ajang pamer foto dengan background keindahan suatu gunung untuk dipamerkan di media sosial. Atau paling maksimal, mencari pengalaman mendaki dan kemudian menceritakannya kepada seorang teman. ( Tentunya, lagi-lagi untuk ajang pamer ).

Subjektif memang, apa yang saya bicarakan ini. Sangat subjektif. Memang tidak semua pendaki menjadikan gunung sebagai tempat wisata. Tapi kenyataannya sekarang, banyak sekali pendaki amatir yang latah mengikuti trend ‘5 CM’. Semakin ramai semakin asyik. Mendaki gunung, untuk mendapat foto yang bagus dan melupakan hal yang jauh lebih berharga : pengalaman.

Jujur saja, saya pernah menjadi salah satunya. Punya tujuan mendaki gunung untuk sekedar mendapat foto pamer-pameran di kampus. Ketika itu, gunung Semeru yang saya dan teman-teman saya daki. Setelah menginjak tanah sakral di pegunungan semeru, kami pulang kembali ke Bandung. Kemudian apa yang saya bawa pulang? Tanpa esensi, hanya foto dan rasa lelah. Saya memang mendapat secuil pengalaman, tapi tidak lantas menjadi bahan renungan saya. Pengalaman hanya sekedar untuk ceritakan pada orang yang saya kenal. Menyedihkan? ya, saya pikir.

Saya pikir, mungkin esensi pendakian akan jauh lebih terasa, ketika kita berangkat tanpa membawa serta kamera. Agar ingatan tentang keindahan alam gunung tetap terjaga dengan baik dalam ingatan. Karena menurut saya, perjalanan mendaki gunung, adalah lebih ke arah perjalanan spiritual dibanding perjalanan wisata.

And last, it’s all about my opinion. Everyone has their own perspectives. Peace! 

2 thoughts on “Naik Gunung ; Mencintai alam atau ikutan trend?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s