Stop merokok, cukup pengalaman (?)

Pertama, saya ingin bercerita bagaimana pengalaman dulu mengenal rokok. 

Saya yakin nyaris semua perokok itu mengenal rokok di masa-masa SMP-SMA. Sebagian kecil lainnya, bisa lebih awal atau justru terlambat. Sama seperti saya, rokok pertama yg saya isap itu dulu, Surya GG. Berat ya? Haha kalau di tempat kami, itu disebut “rokok tukang” karena murah dan lama abisnya. Saya jadi malu juga ingat rokok itu. Haha.

Jadi dulu saya lulus Smp dan kebetulan sekali, SMA yang menerima saya bertetangga dengan Smp saya dulu. Akhirnya cuma pindah gerbang deh saya. Dan, awal masuk SMA dulu, saya orang nya pemalu. Boro-boro, mencari lawan jenis, mencari teman baru saja, rasanya enggan. Yah, akhirnya saya main lagi-lagi dengan mereka, alumni dari Smp dulu, yang sudah saya kenal baik. 

Dan mereka inilah yang memperkenalkan saya dengan rokok!

Awalnya, cuma karena ingin dianggap dewasa. Iya, mindset salah yang dipelihara masy. Indonesia turun-temurun : usia 17th, usia dimana anda boleh melakukan hal-hal “terlarang” dengan konsekuensi yang anda tanggung sendiri. Mindset salah itu saya pelihara, jadilah ketika itu saya menghisap rokok pertama saya.

Batang pertama, kedua, ketiga, dst. Hingga saya tak kuasa hitung berapa batang sudah saya bakar sampai detik ini.

Sinkat cerita, 7 tahun lewat. Saya sudah lulus kuliah, harus mencari kerja, dan masih merokok saja. Berulangkali ibu saya meminta saya untuk berhenti, saya cuma senyum saja. 

Hidayah itu baru tiba, kala kakak pertama saya, kena TBC. Dia juga perokok berat, dan parahnya sejak SD. Dan, dia lebih suka rokok daripada makan. Ga heran juga kalau sampai kena. 

Melihat kakak saya, yang dulu kepas-kepus ga kenal waktu, lantas tiba-tiba berhenti, berasa ada yang aneh. Yang paling kerasa anehnya justru saat dia bilang, saya sebaiknya berhenti merokok. Iya, saya tau itu benar. Cuma, aneh saja rasanya dengar dia yang bilang begitu…

Sebenarnya, riwayat merokok di keluarga saya itu nyaris lengkap. Maksudnya begini, dulu almarhum kakek saya perokok. Semua paman saya merokok, ayah dan ibu saya pun mantan perokok (untungnya sudah berhenti) jadi ya nggak heran kalau kami, para cucu cicit kakek melakukan hal yang sama. 

That’s a bad habit. This should end up in my generation soon. 

Saya pun merokok. Hingga 7 tahun. Dan suliiiit sekali untuk berhenti. Lingkungan saya perokok semua. Tuntutan tak tertulis di social life saya, adalah beli rokokmu sendiri dan bawa korekmu sendiri. Saat paling nikmat merokok yang paling saya suka adalah ketika ngobrol sehabis makan, dan jongkok didalam kegelapan wc. Haha.

Dang! Tiba-tiba kakak saya kena TBC. Kasian melihatnya, yang bahkan untuk berbagi cangkir dengan anaknya pun nggak boleh. Setiap hari harus pakai masker, meski itu dirumahnya sendiri. 

Sya jadi kepikiran akhirnya, bagaimana kalau saya apes? Amit-amit kalau nanti saya juga kena. Dari itu, saya putuskan stop merokok. 

Begitu saja. Tiba-tiba. 

Ini sudah jalan 3 hari. Semoga saja lanjut sampai seterusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s